RSS

Fenomena Pleci

22 Agu

Fenomena Pleci 

sumber : http://omkicau.com/2010/06/18/pleci-cucak-jenggot-kolibri-dan-gelatik-wingko-cerita-jelang-piala-raja/

 

Burung pleci atau dikenal dengan burung kacamata, saat ini sangat mudah dijumpai di pasar atau kios burung. Harga satuannya hanya berkisar 5 ribu perak. Beberapa organiser ada yang membuka kelas ini, baik di latber maupun lomba yang lebih gede. Namun pesertanya memang kurang. Barangkali yang cukup ramai hanya pada lomba dari kawasan Malang saja. Daerah lain rupanya kurang tertarik dengan lomba burung ini.

Di Jogja pun saat ini belum begitu ramai, namun dalam beberapa waktu ke depan rasanya akan terasa beda. Itu karena beberapa kicaumania memang berniat ingin menggeber jenis pleci agar bisa ramai lagi.

Salah satu yang terobsesi untuk meramaikan kelas pleci adalah Agung Budiman. Agung mengaku iri dengan lomba burung pleci di negeri tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Cina, juga di Hongkong dan Vietnam.

Di Singapura, sekali gantang dalam kelas penyisihan bisa diikuti hingga 200-an burung pleci. Agung mengaku pernah mencoba menawar burung pleci yang menurutnya sangat bagus, dan ternyata memang langganan juara.

Agung mengaku pernah iseng-iseng menawar hingga harganya kalau dikurskan sampai sekitar 50an juta, tapi ternyata tetap kekeh tidak dikasihkan. “Yang punya bilang ditawar sampai 60 juta rupiah juga tidak dikasih.”

 

[img]http://kicauan.files.wordpress.com/2010/06/agus-budiman-kiri-dan-pleci.jpg[/img]

Merasa gregetan, kini Agung pun terus mengumpulkan dan memburu pleci terbaik di Tanah Air. Salah satu yang sudah berhasil menjadi koleksinya adalah pleci Rontak yang langganan juara tak terkalahkan di seputar Malang.

“Suatu saat, saya ingin membawanya untuk dilombakan di Singapura sana. Saya rasa bisa menang karena kalau kita kan merawat burung jauh lebih serius dari pada mereka. Sebagian besar burung pleci, atau burung kaca mata, atau di Singapura disebut sebaggai burung Mata Putih itu, diklaim sebagai burung Malaysia. Tapi ketika coba ditelurusi, para pengepul Malaysia itu ternyata memburunya ke daerah Lombok, Indonesia. Setelah dibawa ke Malaysia dan dirawat secukupnya, barulah diekspor ke Singapura. Identitasnya pun menjadi burung Mata Putih Malaysia, bukan Indonesia.”

Di Singapura ada sekitar 5 lokasi lomba burung, dan khusus kelas Pleci hampir semuanya dipenuhi peserta. Burung ini disukai dinegeri tetangga karena suaranya yang merdu, halus, dan tidak terlalu berisik. Pleci biasa menemani di ruang kantor dari kantor kecil hingga kantor mewah, suaranya cukup indah didengarkan, juga bisa menimpali alurian musik yang disetel perangkat audio modern.

Tak ada hingar bingar teriakan peserta atau penonton. Semua duduk manis di pinggir lapangan sambil menikmati suara ngerol dari pleci yang meskipun tidak terlalu tembus, tetapi cukup bisa dinikmati kemerduannya.

 

Perawatan dan stelan

Banyak yang mungkin tak tahu persis bagaimana merawat dan menyetel pleci. Caranya tak beda dengan merawat anis merah. Pakan harian selain buah-buahan juga diberi voer yang lembut.

Pleci dimandikan, dengan cara dimasukkan ke keramba. Tentu ukuran keramba lebih kecil, jeruji juga lebih rapat. Sangkar pleci juga lebih kecil ukurannya.

Sebelum dilombakan, pleci sebaiknya juga dichas dengan sesama peserta yang lain, sebagaimana anis merah. Burung dicas, menurut pengalaman Agung Budiman, akan nanipil lebih baik. “Tradisi ngecas pleci sudah mulai ramai di Malang. Kalau di Singapur tentu tak ada, karena cara mereka memahami hobi dan burung beda dengan kita. Mereka benar-benar hanya buat waktu senggang, kalau kita kan serius sekali. Misalnya pengin tahu biar ketemu setelannya ya dicari beneran. Kalau orang luar ya ndak, lugu, apa adanya. Mau bunyi syukur, ndak juga santai aja.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2011 in TENTANG PLECI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: