RSS

Mencegah Pleci Punah dari Alam

22 Agu

Solusi jangka pendek untuk mencegah kepunahan Pleci, sudah banyak disampaikan oleh om-om sekalian di atas:

1. Mari membuat kesepakatan (minimal dimulai dari anggota BPMI, dan syukur bisa kita umumkan ke seluruh pemelihara burung kedepan, karena kalau mengandalkan aturan pemerintah pasti ngak jalan!) tentang jumlah maksimal burung Pleci yang boleh “dimomong” di rumah. Sebagai contoh, di beberapa desa adat di Bali hal ini sudah berlaku meski teknisnya berbeda, ada yang maksimal tiap rumah hanya boleh pelihara 3 ekor burung (jenis apapun), tapi di desa adat yang lain ada yang memberlakukan hanya boleh pelihara 3 individu untuk tiap jenis. Nah, untuk Pleci nih mau berapa maksimal yang boleh dipelihara? Mari kita diskusikan…sederhananya, kalau anggota online BPMI sekarang saja ada 1225 dan maksimal boleh pelihara 5 ekor, brarti kita tahu bahwa terdapat 6125 ekor burung Pleci di dalam peliharaan. Data ini  penting untuk terus kita pantau, guna memperkirakan berapa banyak Pleci di alam telah berkurang. Tentunya dengan asumsi setiap orang memelihara “momongannya” dengan perawatan yang baik dan benar, sehingga “kematian” dan penggantian juga harus kita perhatikan.

Kalau pembatasan ini bisa disepakati oleh anggota BPMI, maka ini akan jadi organisasi pertama yang menerapkan salah satu prinsip dalam “Biodiversity Sustainable Use” di Indonesia. yang bahkan PBI dan atau BNR pun belum melakukannya. PBI menjadi pioneer di bidang pembatasan lomba burung hasil penangkaran. BnR menjadi pioneer di bidang “pinjaman” indukan untuk penangkaran. disinikah BPMI akan menjadi pioneer??

2. Pembatasan yang serupa juga perlu dilakukan oleh para penangkap burung. Pembatasan tidak hanya pada lokasi buru atau lokasi tangkap tapi juga jumlah yang boleh ditangkap. Hal ini sebenarnya penting untuk kesejahteraan para pemburu sendiri. Kalau jumlah yang ditangkap dibatasi maka supplay pasar akan terbatas, dan dengan permintaan yang naik maka harga akan terkatrol (om Irvan pasti bisa menjelaskan hal ini dengan jauh lebih baik daripada saya). Meski demikian, hal ini tentu diluar “kuasa” kita sebagai penghobi. nah, apa yang bisa kita perbuat adalah dengan memilih untuk tidak membeli burung yang ditangkap dari kawasan lindung atau kawasan konservasi. Sederhananya, tanyakan darimana asal burung yang dijual ombyokan di pasar itu. Kalau itu berasal dari taman nasional Merapi, atau taman nasional yang lain, atau dari hutan lindung Wonosadi di Gunung Kidul atau hutan lindung yang lain, maka JANGAN DIBELI !!!! sebagus apapun PC itu. Karena kualitas Pleci sesungguhnya sangat tergantung tangan ktia dalam merawatnya.

3. Merawat momongan dengan baik dan benar, tidak melepas-liarkannya secara “sembarangan”, dan mulai menangkarkannya. Ketiga hal ini bisa jadi solusi jangka pendek menurut saya, karena bisa kita mulai dari diri kita sendiri dan saat ini juga.

Solusi jangka menengah:

Mungkin hanya bisa dilakukan oleh mereka yang benar-benar menginginkan Pleci tidak punah.

1. Kalikan setiap pengeluaran kita dalam merawat Pleci, mulai dari pengeluaran untuk beli Pleci, kroto, voer, perjalanan ikut lomba, dll dengan angka 10%. MIsalnya untuk perawatan selama sebulan kita habis sepuluh ribu, maka kita harus menabung seribu rupiah!. Nah, setelah satu atau dua tahun, gunakan uang itu untuk membeli bibit pohon Beringin, Aren, Bakau, dll untuk kita tanam pada kawasan hutan lindung atau hutan konservasi yang telah rusak atau cukup tanaman buah seperti Jambu air, kersen, dll yang dapat kita tanam di halaman rumah, taman kota, atau titip ke halaman tetangga (kalau ikhlas…hehehe). Intinya mari mulai melibatkan diri dalam perlindungan habitat atau tempat hidup Pleci dengan segala daya yang kita mampu, termasuk ikut melarang dan mengingatkan para penembak mania yang hanya menjadikan Pleci sebagai sasaran tak berguna.

2. Mari membuat tradisi baru dalam lomba burung, khususnya Pleci. Misalnya, dalam setiap tiket lomba kita juga berikan biji pohon tertentu, bisa asam jawa, mangga, turi, jeruk, manggis, sawo, langsat, duku, salam, nyamplung, dan wuni. Mungkin biji itu akan dibuang sembarangan, tapi air hujan akan membawanya kesuatu tempat dan tangan-tangan lain akan merawatnya hingga tumbuh. Syukur kalau setiap peserta lomba berkenan merawatnya, dan menanamnya di rumah masing-masing. Biji-bijian ini tentu saja bisa kita gantikan dengan bibit, tapi kurang praktis dan lebih mahal. Jenis-jenis biji yang saya tulis itu tidak asal, tapi merupakan jenis-jenis biji dari beberapa jenis pohon yang setahu saya sering disinggahi Pleci untuk cari makan, tidak hanya buah tapi juga ulat yang memakan daunnya.

Nah…kalau solusi jangka panjang…

1. Hanya hasil breeding yang boleh dipelihara dan dilombakan Om…burung tangkapan dari alam hanya boleh dibeli oleh breeder untuk memperkaya keragaman genetik. Kalau perlu burung dari alam hanya boleh dijual sprema dan sel telurnya saja. ngak boleh jual individunya.

2. BPMI punya konsesi kawasan yang dilindungi untuk pelestarian Pleci. Kawasan ini bisa sekaligus untuk kawasan wisata keluarga. Yang pasti Pleci di kawasan ini tidak boleh ditangkap!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2011 in TIPS

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: